Wednesday, June 6, 2018

Begini Komentar Manteri Yohana Atas Kasus Via Vallen


Akhir-akhir ini memang sedang marak kasus pelecehan seksual yang dialami oleh wanita. Salah satunya, Penyanyi dangdut Via Vallen, diduga mengalami pelecehan seksual secara verbal oleh seorang pesepakbola. Pelecehan yang dialami pelantun 'Sayang' ini ramai dibicarakan publik setelah Via mengunggah hal tersebut di fitur Instagram Story beberapa hari lalu. Menanggapi ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise menyarankan agar kasus ini dilaporkan ke polisi.
"Kalau memang dirasa dilecehkan ya lapor ke polisi," saran Yohana di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (6/6).
Ia menegaskan apa yang dialami Via Vallen ialah bentuk pelecehan terhadap martabat perempuan. Karena itu segala bentuk pelecehan harus dilawan dan diangkat ke publik.
"Namanya perempuan punya harga diri dan martabat yang dijaga dan ini merupakan pelecehan martabat perempuan. Itu saja. Saya juga kalau dapat (perlakuan) seperti itu saya marah dan melawan," kata dia.
Yasona mendorong setiap perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual agar berani berbicara dan membuka pengalamannya kepada publik sebagaimana yang dilakukan Via Vallen. Saat ini para korban pelecehan seksual di seluruh dunia telah berani membuka pelecehan yang dialaminya sebagai salah satu bentuk perlawanan melalui tagar MeToo yang mulai disuarakan di Amerika.
"Ini bukan di sini saja. Di seluruh dunia juga begitu. Itu namanya salah satu seksual harassment, pelecehan seksual," ujarnya.
"Harus. Perempuan harus melapor," sambungnya.
Ia mengimbau para perempuan Indonesia untuk berani melapor jika mengalami pelecehan seksual atau kekerasan. Ada UU yang menjamin perlindungan kepada perempuan.
"Saya mengimbau kepada kaum perempuan untuk melaporkan bilamana ada sesuatu masalah atau sesuatu kekerasan yang terjadi terhadap mereka harus dilaporkan. Karena Undang-undang sudah ada. Perempuan sekarang diperhitungkan, dilindungi oleh negara. Hak perempuan ada yang harus dijaga dan mereka berhak untuk melapor. Lapor saja," tutupnya

Benarkah Korea Utara Tidak Mampu Biayai Akomodasi Kim Jong Un ?

Akomodasi kenegaraan tentu tidak bisa dipenuhi dengan standar yang tidak tinggi, muai dari segi keamanan dan kenyamanan. Tak heran uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah harus dikeluarkan untuk sebuah pertemuan penting atau kunjungan seorang kepala negara.
Menariknya, dikabarkan timbul masalah baru jelang pertemuan bersejarah antara Donald Trump dan Kim Jong Un soal siapa yang harus membayar tagihan hotel pemimpin Korea Utara tersebut selama berada di lokasi pertemuan, Singapura.
Karena diwartakan Viva, Kim Jong Un menginginkan menginap di presiential suite hotel bintan glima, The Fullerton Hotel. Namun pihak Korea Utara tidak sanggup membayar keperluan logistik pemimpinnya itu.
Korut yang dikatakan sebagai negara kekurangan uang itu menuntut pihak lain untuk membayar tagihan hotel yang diperkirakan mencapai USD6.000 per malam atau setara dengan Rp83 juta itu. Singapura pun menawarkan siap memenuhi sebagian biaya pertemuan.
Tanpa memberikan rincian spesifik, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengatakan bahwa negaranya siap menanggung biaya untuk memastikan pertemuan itu sukses. "Jelas ya, tapi itu adalah biaya yang akan kami tanggung untuk memainkan bagian kecil dalam pertemuan bersejarah ini," kata Ng via The Independent.
Yang menghebohkan adalah Amerika Serikat yang dilaporkan siap membayar kebutuhan Kim Jong Un tersebut. Meski AS terbuka untuk memenuhi biaya tersebut, pembayaran apa pun akan melanggar sanksi Departemen Keuangan di negaranya. Karena itu Kantor Kontrol Aset Asing pun perlu menangguhkan sementara penerapan sanksi melalui pengabaian.

Monday, June 4, 2018

Wanita Ini Tewas Ditembak ! Penyebabnya Mengharukan


Kematian Razan Al Najjar, seorang perawat medis asal Palestina yang ditembak mati pasukan Isreal saat bertugas pada Jumat (1/6/2018) masih meninggalkan duka bagi orangtua dan kerabatnya.
Ribuan orang menghadiri pemakaman Razan pada Sabtu (2/6/2018). Bagi orangtuanya, dia merupakan anak perempuan kesayangan yang berani. Namun, dia justru tewas beberapa ratus meter dari rumahnya di Khan Younis.
Wilayah Khan Younis berada di dekat pagar perbatasan yang memisahkan Gaza dari Israel.
Dilansir dari CNN, Minggu (3/6/2018), seluruh jalanan dan tiang lampu di sana dipenuhi foto Razan yang tersenyum, menunjukkan duka masih menyelimuti penduduk sekitar dan keluarga yang ditinggalkan.
Ayah Razan, Ashraf Al Najjar, mengatakan seluruh keluarga yang tinggal di rumah kecil itu masih tidak percaya perempuan berusia 21 tahun tersebut telah tiada.
Ibu Razan, Sabreen, masih mengenakan busana hitam sambil memegang rompi medis milik putrinya yang bersimbah darah.
Dia mengatakan, Razan menjadi relawan sejak aksi protes telah dimulai.
"Saya khawatir terhadapnya, tapi Razan bilang dia tidak takut. Dia merasa harus membantu dan dia jelas mengenakan rompi medis," ucapnya.
"Dia mungkin kecil, tapi dia kuat, dan satu-satunya senjata dia hanya rompi medis," imbuhnya.
Ada satu kalimat dari Razan yang begitu menyentuh hati keduanya ketika mereka harus melepaskan putrinya ke medan.
"Saya terlindungi oleh rompi. Tuhan bersama saya, saya tidak takut," kata Razan kepada orangtuanya.
Razan merupakan petugas medis kedua yang tewas selama aksi protes warga Palestina terhadap Israel selama beberapa pekan terakhir.
Sementara, lebih dari 200 petugas medis lainnya mengalami luka.
Di Kota Gaza yang terik, kelompok relawan medis berkumpul di kantor PBB pada Minggu (3/6/2018), memprotes aksi militer Israel yang menargetkan tenaga medis.
Namun, pasukan Israel menyangkal telah menargetkan pekerja medis.
Dalam aksi unjuk rasa kemarin, seorang rekan Razan, Rami Abu Jazzar, mengatakan Jumat lalu seperti hari biasanya.
Dia dan Razan, serta kelompok relawan lainnya merawat demonstran yang terluka. Namun, pada hari itu, Razan tiba lebih awal.
"Ketika dia tiba pada Jumat, dia bilang ke teman-teman, 'Saya menyukai bekerja di sini bersama kalian'. Dia tersenyum sepanjang hari," katanya.
Sebelum ditembak, Razan juga sempat melihat keberadaan penembak jitu dan memperingatkan rekan lainnya untuk berhati-hati.
Bulan lalu, The New York Times mewawancarai Razan di Gaza. Dia merupakan satu-satunya petugas medis perempuan yang bertugas dalam darurat medis selama aksi protes saat itu.
"Kami memiliki satu tujuan, yaitu untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang," kata Razan.
"Dan mengirim pesan ke dunia bahwa tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja," imbuhnya.

Begini Komentar Manteri Yohana Atas Kasus Via Vallen

Akhir-akhir ini memang sedang marak kasus pelecehan seksual yang dialami oleh wanita. Salah satunya, Penyanyi dangdut Via Vallen, didug...